MEMETIK PELAJARAN DARI AJARAN NABI IBRAHIM AS

Di Bulan Dzulhijjah ini mari kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah Swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarganya yakni Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad Saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah Swt berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ                           

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS 60:4).

Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia serta mengambil pelajaran dari pelaksanaan ibadah haji dan Qurban, paling tidak ada beberapa isyarat yang bisa kita petik sebagai pelajaran yang dapat kita aplikasikan dalam memperbaiki kualitas kehidupan kita. Harapannya dari pelajaran- pelajaran tersebut semoga bisa menjadi kunci bagi upaya memperbaiki kualitas kehidupan baik inidividu, keluarga, golongan, masyarakat ataupun bangsa dan negara. Pelajaran-yang bisa dipetik dari ajaran Nabi Ibrahim diantaranya adalah :

Pertama, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah proses memilih dalam mengambil keputusan. Dalam menjalani kehidupan di dunia kita pasti dihadapkan kepada suatu pilihan (proses memilih) dalam al Qur`an disebutkana “Wa hadainahun Najdain”. Pilihan itu bisa diadasarkan atas napsu dan bisa didasarkan atas aturan Allah SWT. Dalam hal ini nabi Ibrahim AS memberikan sinyal kepada kita dalam proses memilih untuk mengambil keputusan. Nabi Ibrahim AS memutuskan untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail As ternyata melakukan poses dari mimpi di hari kesatu merasa ragu (Yaumu Tarwiyah) sampai mimpi di hari yang ketiga merasa yakin dan tahu bahwa mimpi itu adalah perintah Allah SWT (Yaumu Arafah). Hal ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa dalam mengambil keputusan dalam melakukan suatu kegiatan tentunya kita memerlukan proses dan pertimbangan, baik dari segi waktu, keilmuan, maupun mohon petunjuk  dengan melalui sara, pendapat dan mohon petunjuk Allah SWT.

Kedua, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah berbaik sangka (Husnu Dhon) kepada Allah SWT, sikap ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dari sikap inilah kita akan menjalani kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah Swt. Nabi Ibrahim dan isterinya Siti Hajar telah menunjukkan sikap yang sangat positif kepada Allah Swt. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk memindahkan Siti Hajar dan anaknya Ismail as ke Makkah, terasa berat untuk melakukan hal ini, bukan semata-mata harus berpisah dengan isteri dan anak, tapi juga karena di Makkah pada waktu itu belum ada kehidupan, tidak ada manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang bahkan air sekalipun. Sikap berbaik sangka kepada Allah membuat Ibrahim dan Siti Hajar yakin bahwa tidak mungkin Allah Swt punya maksud buruk dalam memerintahkan sesuatu. Begitu pula halnya dengan perintah menyembelih Ismail as. Memang harus kita sadari bahwa ketika Allah Swt memerintahkan sesuatu itu berarti Allah ingin mewujudkan kemaslahatan atau kebaikan-kebaikan dan ketika Allah melarang, itu berarti Dia ingin mencegah terjadinya mafsadat atau kerusakan-kerusakan yang akan menimpa manusia. Dalam satu hadits, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

Janganlah salah seorang dari kaliam mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah (HR. Abu Daud dan Muslim).

Manakala seseorang sudah berbaik sangka kepada Allah Swt, maka ia optimis bahwa ada hari esok yang lebih baik. inilah pelajaran penting yang harus kita peroleh dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sikap ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dari sikap inilah kita akan menjalani kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah Swt.

Dalam kehidupan masyarakat kita sekarang, banyak orang yang telah hilang sikap optimismenya sehingga terasa tidak mungkin ada perubahan yang lebih baik, ini merupakan sikap yang  berbahaya dan harus dihindari karena seseorang menjadi apatis atau masa bodoh dengan berbagai persoalan yang ada di sekitarnya bahkan bisa putus asa hingga bunuh diri ketika menghadapi persoalan pribadi dan keluarga yang berat. Indikasi ini sudah banyak terjadi, bahkan bunuh diri tidak hanya terjadi pada orang dewasa tapi juga pada anak-anak. Kesulitan manusia, sesulit apapun yang dialaminya pada hakikatnya tidaklah sesulit generasi terdahulu, selalu ada saja kesulitan yang lebih sulit dialami oleh generasi terdahulu.

Ketiga, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah disiplin dalam syari’at yang diturunkan Allah Swt. Disiplin dalam syari’at, Ibadah haji dan kurban merupakan pelaksanaan dari salah satu syari’at yang diturunkan Allah Swt. Ini berarti seorang muslim harus menunjukkan kedisiplinannya untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at, hukum atau undang-undang dari Allah Swt, baik dalam perkara kehidupan pribadi, keluarga masyarakat maupun bangsa dan negara. Disiplin dalam syari’at akan membuat seorang muslim tidak tergoyahkan oleh komentar-komentar negatif dari orang yang tidak mengerti terhadap syari’at, Allah Swt berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ الاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ                   

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at dari suatu urusan, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang yang tidak mengerti (QS 45:18)

Ibadah haji mendidik umat Islam untuk disiplin dalam syari’at. Ibadah ini dimulai dengan ihram yang berarti pengharaman dan diakhiri dengan tahallul yang berarti penghalalan. Dari sini, seorang muslim apalagi seorang haji akan selalu siap meninggalkan sesuatu yang memang diharamkan Allah Swt dan hanya mau melaksanakan sesuatu bila memang dihalalkan oleh Allah Swt.

Keempat, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah giat berusaha untuk mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya membuat manusia seharusnya mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah Swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah Saw bersabda:

ِانَّ للهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ  يَرَى تَعِبًا فىِطَلَبِ الْحَلاَلِ                                                                    

Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).

Usaha yang halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah mendapatkannya, tapi cara memperolehnya adalah dengan mengemis yang hanya akan menjatuhkan martabat pribadi. Bila mengemis saja sudah tidak terhormat apalagi bila mencuri atau korupsi dan cara-cara yang tidak halal lainnya. Rasulullah Saw bersabda:

َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ، ثُمَّ يَجِيْءَ فَيَضَعَهُ فِىالسُّوْقِ، فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِىَبِهِ، فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ.

Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah pro aktif dalam kebaikan. Ibadah haji merupakan ibadah bergerak. Para jamaah bergerak dari rumahnya menuju ke Makkah. Semua rangkaian  kegiatan ibadah haji baik rukun atau sunahnya dilakukan dengan bergerak. Dari rangkaian ibadah haji, kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap muslim apalagi mereka yang sudah menunaikan haji seharusnya pro aktif untuk memperbaiki keadaan. Setiap muslim harus bergerak untuk mencari nafkah, bergerak mencari ilmu, bergerak untuk menyebarkan, menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, bergerak untuk memberantas kemaksiatan dan kemunkaran. Ini semua menunjukkan bahwa seorang muslim jangan sampai menjadi orang yang pasif, diam saja menerima kenyataan yang tidak baik, apalagi bila hal itu dilakukan dengan dalih tawakkal, padahal tawakkal itu adalah berserah diri kepada Allah atas apa yang akan diperoleh sesudah berusaha secara maksimal.

Keenam, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah pengorbanan di jalan yang benar. Satu hal yang mengingatkan kita untuk memperkokoh semangat pengorbanan adalah karena Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan tokoh yang tiada tara dalam berkorban untuk menunjukkan ketaatannya kepada Allah Swt. Qurban secara harfiyah berarti pendekatan, yakni pendekatan diri kepada Allah Swt agar kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti menjadi baik. Orang yang mau berkorban berarti orang yang menyadari akan masa depan yang lebih penting dari pada masa sekarang. Karena itu Allah Swt berfirman:

يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan perhatikanlah dirimu, apa yang sudah kamu perbuat untuk hari esok, bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat (QS 59:18).

Pengorbanan memang harus kita lakukan dalam hidup ini, karena pengorbanan itu tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi sebenarnya bagi kita juga, hal ini karena bila kita memiliki kemampuan mengorbankan sesuatu lalu kita mengorbankannya, maka orang lain akan menghormati dan memuliakan kita meskipun kita tidak mencari-cari hal itu, sedangkan bila kita mempunyai kemampuan untuk berkorban tapi kita tidak melakukannya, maka orang lain akan menghinakan kita, itulah diantara manfaat berkorban bagi diri kita.

Ketujuh, pelajaran dari ajaran Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya adalah bisa mengalahkan ganguan dan rintangan yang menghalangi terrealisasinya amal kebaikan. Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah menyembelih Ismai AS ada halangan dan godaan yang menimpa pada dirinya dan keluarganya. Diantaranya keraguan dalam dirinya ketika mimpi yang pertama. Kemudian godaan dari setan baik melalui nabi Ibrahim, Nabi Ismail mapun pada ibunya siti Hajar. Oleh karena itu dapat diambil plajaran bahwa dalam merealisasikan kebaikan tentunya tidak mulus begitu saja tapi ada suatu rintangan, ganngguan serta godaan baik dari intern maupun dari ekstern. Hambatan semua itu harus bisa terkalahkan atau teratasi supaya kebaikan yang kita niati terrealisasi dengan sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

abdulhamid72blog

Hidup itu Perlu Perjuangan

%d blogger menyukai ini: