KETERBUKAAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH

KETERBUKAAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH

Kawali-20140618-00039A. Pengertian Keterbukaan
Kata Keterbukaan berasal dari kata dasar “buka” yang mengandung arti jarak, antara dan lebar. Kemudian kata terbuka diberi awalan ter- menjadi kata “terbuka” yang mempunyai arti : (1) tidak sengaja dibuka; tidak tertutup; tersingkap; (2) tidak terbatas pada orang tertentu saja; tidak dirahasiahkan. Selanjutnya dari kata terbuka dibubuhi imbuhan ke-an menjadi kata “keterbukaan” yang mengandung arti hal terbuka; (perasaan teloransi dan terbuka hati merupakan landasan utama untuk berkomunikasi)1.
Istilah lain dari kata “terbuka” sinonimnya adalah kata “transparan” yang mengandung arti jernih; nyata; jelas; tidak terbatas pada orang tertentu saja; terbuka2. Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa transparansi memiliki beberapa makna yaitu 1) dalam dunia optic mengandung arti keadaan yang memungkinkan cahaya untuk menembusnya. Benda-benda yang memiliki keadaan ini disebu transparan; 2) transparansi secara politik mengandung arti keterbukaan dalam melakukan segala kegiatan organisasi.. dapat berupa keterbukaan informasi, komunikasi, bahkan dalam hal budgeting3. Oleh karena itu, keterbukaan atau transparansi mengacu pada tindakan yang memungkinkan suatu persoalan menjadi jelas, mudah dipahami, dan tidak disangsikan lagi kebenarannya.
Keterbukaan/Transparansi dibangun berdasarkan kebebasan untuk memperoleh informasi. Proses kelembagaan, dan informasi tersedia secara langsung terutama bagui pihak-pihak yang berkepentingan. Keterbukaan informasi publik telah di atur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor14 Tahun 2008 adalah sebagai berikut4 :
1) Bahwa Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat , didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun non elektronik.
2) Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan public lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan public.
3) Badan public adalah lembaga eksekutif, legislative dan badan lain yang fungsi dan tugas pokonya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Pendapatan dan Belanja Daerah atau organisasi non pemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.

Adanya keterbukaan/transparansi tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, sulit bahkan tidak mungkin untuk menepis dan mengendalikan setiap informasi yang masuk. Keterbukaan adalah keadaan yang memungkinkan ketersediaan informasi bagi masyarakat luas. Dengan demikian, leterbukaan atau transparansi adalah tindakan yang memungkinkan suatu persoalan menjadi jelas mudah dipahami dan tidak disangsikan lagi kebenarannya. keterbukan merupakan kondisi yang memungkinkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan bernegara.
Kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan, keterbukaan atau transparansi berarti kesediaan pemimpin lembaga pendidikan dalam hal ini kepala sekolah/madrasah untuk senantiasa memberikan informasi faktual mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan proses penyelenggaraan pendidikan.
Istilah keterbukaan/transparansi dalam bentuk konteks pendidikan, sangatlah jelas yaitu kepolosan apa adanya, tidak bohong, jujur dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah, dimana data yang dilaporkan sekolah mencermikan realitas yang sebenarnya dan setiap perubahan harus diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua pihak yang terkait (stakeholders). Oleh karena itu, transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi sekolah sehingga mempermudah publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan sekolah.
Dari gambaran penjelasan tentang konsep keterbukaan atau transparansi di atas dapat disimpulkan bahwa dimaksud dengan keterbukaan atau tranparansi adalah sifat yang dimiliki oleh perasaan teloransi dan keterbukaan hati seseorang yang diwujudkan dengan sikap jujur, rendah hati, adil, serta mau menerima pendapat dan kritik dari orang lain dalam melaksanakan kegiatannya dan tidak menutupi apa yang dikerjakannya sehingga menjadi jelas mudah dipahami dan tidak disangsikan lagi kebenarannya.

B. Pengertian Manajerial Kepala Sekolah
Kata manajerial erat kaitannya dengan kata manajer. Kata “manajer” dalam Kamus besar bahasa Indonesia mengandung arti: (1) orang yang yang mengatur pekerjaan atau kerja sama diantara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; (2) orang yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu5.
Menurut Baharuddin dan Umiarso bahwa yang dimaksud dengan manajer adalah orang yang memilki tanggung jawab untuk mengatur pekerjaan atau kegiatan diantara berbagai kelompok atau sejumlah orang dan juga mengendalikannya untuk mencapai tujuan organisasi6 . Istilah “manajerial” dideskripsikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa manajerial adalah segala hal yang berhubungan dengan manajer yaitu keterampilan yang tinggi seorang manajer yang diperlukan bagi seorang pemimpin7 .
Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin perlu memulai dengan tujuan dalam pikiran. Artinya, perlu memulai dengan pemahaman yang jelas tentang tujuan manajemen sekolah dan mengetahui apa yang harus dikerjakan serta dapat mencapai tujuan yang jelas8. Selanjutnya kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin perlu juga berpikir system (systems thinking) yang oleh Senge dikutif oleh Ruhiat dideskripsikan sebagai suatu discipline for seeing wholes (disiplin untuk melihat keseluruhan), yaitu suatu framework (kerangka acuan) untuk melihat keinterelasian dari pada elemen-elemennya, melihat pola perubahan dari pada snapshots (jepretan foto) yang statis. Berpikir sistem dibutuhkan karena kepala sekolah sering dihadapkan pada kompleksitas9.
Kedua peran kepala sekolah (sebagai manajer dan pemimpin) tersebut dalam pelaksanaanya selalu menyatu dan melekat pada diri kepala sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Sergiovanni dan Starratt mengemukakan bahwa10 : ‘Sometimes leadership and management talent reside in the same person; at other times those talents are found in the different people. Leadership alone will not get the job done; there must be someone to administer schedules, complete reports, manage budgets and resources’. (Kadang-kadang kepemimpinan dan bakat manajemen berada pada orang yang sama; pada waktu lain bakat-bakat yang ditemukan pada orang-orang yang berbeda. Kepemimpinan saja tidak akan mendapatkan pekerjaan yang dilakukan; harus ada seseorang untuk mengelola jadwal, laporan lengkap, mengelola anggaran dan sumber daya).
Perhatian kepala sekolah sebagai seorang manajer dalam kemanajerialannya tertuju pada pemeliharaan struktur, prosedur dan tujuan yang berlaku. Oleh karena itu seorang kepala sekolah sebagai manajer dapat dilihat sebagai kekuatan stabilisasi. Sedangkan kepala sekolah sebagai pemimpin, sebaliknya, dapat dilihat sebagai orang yang melakukan perubahan11.
Di samping itu kepala sekolah dalam menjalankan kemanajeriannya harus memiliki dan memahami tentang kompetensi manajerial. Kompetensi manajerial tersebut tercantum dalam pemendiknas No 13 tahun bahwa kompetensi manajerial adalah kemampuan dan pemahaman kepala sekolah dalam hal pengelolaan sekolah, yang terdiri atas: (1) Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan; (2) Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan; (3) Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal; (4) Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif; (5) Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik; (6) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal; (7) Mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal; (8) Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/madrasah; (9) Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik; (10) Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional; (11) Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien; (12) Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah; (13) Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah; (14) Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan; (15) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah; (16) Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya12 .
Keenam belas sub kompetensi tesebut itu semua terkait dengan kemampuan kepala sekolah sebagai manajer dalam melaksanakan tugas dan fungsi kemanajerialannya.
Dari gambaran penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajerial kepala sekolah adalah proses pengeloaan yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam mengatur pekerjaan atau kegiatan yang ada di sekolah dan mengendalikannya untuk mencapai tujuan pendidikan disekolah tersebut.

C. Keterbukaan Manajerial Kepala Sekolah
Kepala sekolah merupakan pemimipin dari organisasi pendidikan. Kepala sekolah yang baik adalah seseorang yang peka terhadap kebutuhan kelompoknya. Hal ini dijelaskan oleh Harl R.Douglass. Rudyard K. Bent dan Charles W. Boardman bahwa leadership does not exist separate from a group. Neither does an effective group exist without leadership. By itself , without unity of purpose and coordination of effort, a group is only a collection of people. An educational leader is person who is sensitive to the needs of group and helps it to establish goals, plan a project, and develop effective procedures13 . (Kepemimpinan tidak bisa terpisah dari kelompok. Juga tidak ada kelompok yang efektif tanpa kepemimpinan. Dengan sendirinya, tanpa kesatuan tujuan dan koordinasi usaha, kelompok ini hanya kumpulan orang-orang. Seorang pemimpin pendidikan adalah orang yang peka terhadap kebutuhan kelompok dan membantu untuk menetapkan tujuan, merencanakan suatu proyek, dan mengembangkan prosedur yang efektif).
Salah satu hal yang penting yang dibutuhkan oleh sumber daya pendidikan di sekolah adalah keterbukaan manajerial kepala sekolah. Dari gambaran penjelasan tentang konsep keterbukaan dan konsep manajerial kepala sekolah di atas, dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan keterbukaan manajerialan kepala sekolah/madrasah dalam penelitian ini adalah sifat yang dimiliki oleh perasaan teloransi dan keterbukaan hati kepala sekolah/madrasah yang diwujudkan dengan sikap jujur, rendah hati, adil, serta mau menerima pendapat dan kritik dari orang lain dalam melaksanakan kemanajerialan di sekolah/madrasah dan tidak menutupi apa yang dikerjakannya sehingga menjadi jelas mudah dipahami dan tidak disangsikan lagi kebenarannya
Dalam menjalankan tugas manajerial kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi ini menuntut kepala sekolah memiliki14 : 1) integritas kpribadian yang kuat, yang dalam hal ini ditandai dengan konsisten dalam berpikir, berkomitmen, tegas, disiplin dalam melaksanakan tugas; 2) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri sebagai kepala sekolah, dalam hal ini meliputi memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebijakan, teori, praktik baru, mampu secara mandiri mengembangkan diri sebagai upaya pemenuhan rasa ingin tahu; 3) bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas, meliputi berkecenderungan selalu ingin menginformasikan secara transparan dan proporsional kepada orang lain mengenai rencana, proses pelaksanaan dan efektifitas program; 4) mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan; 5) memilki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin.
Keterbukaan/transparansi manajerial sangat diperlukan dalam menungkatkan dukungan guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Transparansi ditujukkan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan kepada sekolahm/madrasah bahwa sekolah/madrasah adalah organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa, bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti professional.
Prinsip keterbukaan/transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Oleh karena itu Kepala sekolah/madrasah perlu mendayagunakan sebagai jalur komunikasi seperti melalui brosur, leaflet, pengunguman melalui koran, radio serta televise lokal. Sekolah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. Kebijakan ini memperjelas bentuk informasi yang dapat diakses masyarakat atau bentuk informasi yang bersifat rahasia, bagaimana cara mendapatkan informasi, lama waktu mendapatkan informasi serta prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada masyarkat.
Berbagai teori kepemimpinan menganjurkan bahwa untuk menjadi pemimpin yang hebat dibutuhkan persyaratan-persyaratan yang rumit. Akan tetapi ada hal mendasar yang ada pada semua teori itu, yakni barometer keberhasilan yang sebenarnya adalah keterbukaan/transparansi. Tidak dapat dipisahkan antara pemimpin yang transparan dengan orang yang transparan, karena orang-orang yang menjalani hidupnya secara terbuka dan jujur akan melakukan hal yang sama ketika menjalankan kepemimpinannya.

D. Ciri-ciri Keterbukaan Manajerial Kepala Sekolah
Pada dasarnya kepala sekolah merupakan seorang pemimpin pada sebuah organisasi pendidikan. Dalam kontek organisasi dikenal dengan istilah organisasi dengan sistem terbuka. Organisasi dengan system terbuka adalah oraganisasi yang memiliki tingkat interaksi tinggi dengan lingkungan luar. Organisasi dengan sistem ini cenderung interaktif dan dinamis dalam menanggapi setiap bentuk perubahan yang terjadi. Konsep yang dianut oleh sistem organisasi seperti ini cenderung mengedepankan kebersamaan dan memilki kepedulian tinggi pada lingkungan, baik lingkungan internal maupun lingkungan ekternal15 .
Keterbukaan ada kaitannya dengan komunikasi antar pribadi. Untuk mewujudkan kualitas keterbukaan dari komunikasi antar pribadi, diantaranya ada dua aspek yaitu16: 1) aspek keinginan untuk terbuka bagi setiap orang yang berinteraksi dengan orang lain; 2) aspek keinginan untuk menanggapi secara jujur semua stimuli yang datang kepadanya.
Menurut Budi Suhardiman bahwa ciri-ciri kepala sekolah yang bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, sebagai berikut 17: 1) kecenderungan untuk selalu menginformasikan secara transparan dan proporsional, dan keefektifan, kelebihan dan kekurangan pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsi.; 2) terbuka atas saran dan kritik yang disampaikan oleh atasan, teman sejawat, bawahan, dan pihak lain atas pelaksanaan tugas poko dan fungsi.
Kaitannya dengan pemimpin yang terbuka/transparan Jatisusetyono mengemukakan bahwa sebagai pemimpin yang transparan, kepala sekolah harus memiliki tugas penting, diantaranya18: (1) kepala sekolah yang transparan harus menumbuhkan integritas; (2) kepala sekolah yang transparan harus bersedia mendengarkan; (3) kepala sekolah yang transparan menjunjung tinggi prinsip utama transparansi; (4) kepala sekolah yang transparan belajar dari kegagalan (atau keberhasilan) orang lain; (5) kepala sekolah yang transparan bersedia menjadi mentor.

DAFTAR FOOT NOTE.
1. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka. Jakarta, 2007), hal. 171.
2. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Ibid., hal. 1209.
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Transparansi diunduh tgl 03/05/2014 jam 20:03.
4. Kumpulan Peraturan tentang Keterbukaan Informasi Publik, (Jakarta: Lazuardi Buku Utama, 2013), hal. 2-3.
5. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit., hal. 709.
6. Baharudin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam antara Teori dan Praktek, (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2012), hal.. 173.
7. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit., hal. 709.
8. Rohiat, Manajemen sekolah; Teori Dasar dan Praktek, (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), hal. 31.
9. Rohiat, Ibid. hal 31.
10. Sergiovanni, Thomas J. dan Robert J. Starratt, Supervision a Redefinition, (New York: McGraw-Hill, Inc, 1993), hal. 190.
11. Rohiat, Op. Cit. hal 34.
12. Depdiknas. Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/madrasah. Jakarta, hal. 4.
13. Harl R.Douglass. Rudyard K. Bent dan Charles W. Boardman, Democratic Supervision In Secondary School, (Boston: The Riverside Press Cambridge, 1961), hal. 11.
14. Djaswidi Al Hamdani, Administrasi Pendidikan; Administrasi pendidikan dari Perspektif Pendidik, (Bandung, Media Cendekia Publisher, 2014), hal. 132.
15. Irham Fahmi, Manajemen Kepemimpinan Teori dan Aplikasi, (Bandung: Alfabeta, 2012), hal. 159.
16. Abdullah Munir, Menjadi Kepala Sekolah Efektif, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hal. 58.
17. Budi Suhardiman, Studi Pengembangan Kepala Sekolah, Rineka Cipta. Jakarta, 2012, hal. 111.
18. http://jatisusetyono.wordpress.com/2011/01/16/pentingnya-integritas-dan-keterbukaan-dalam-kepemimpinan-kepala-sekolah/ jam 22.05 tgl 16-02-2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

abdulhamid72blog

Hidup itu Perlu Perjuangan

%d blogger menyukai ini: